Jul 10, 2010

Puisi Gede Prama

0

Air Mata Dari Bukit Sukma

Seseorang penyembah Tuhan datang berdoa
Berdoa, berdoa dan hanya berdoa
Demikian khusyuknya ia sampai lupa meminta

Dan dari bukit sukma sana
Ada yang mengalirkan sungai air mata
Berkelok-kelok membuat makna

Derita bukanlah izin bagi petaka berikutnya
Air mata adalah obor penerang cinta
Tangisan adalah aroma bunga jiwa
kebencian mencuri kejernihan tanpa rasa
Bukankah kesedihan yang membuat jiwa perkasa?


Suara Dari Pantai Cahaya

Seorang bocah bertanya
Kenapa ada manusia pencabut nyawa?
Masihkah mereka juga lahir dari cinta?
Apakah mereka lahir dari cinta?

Tiba-tiba...
Ada suara dari pantai cahaya
Bahwa...
Semua datang dari sumber yang sama
Semua pergi ke rumah yang sama
Sambil menangis sang bocah lagi-lagi bertanya
Apakah Mama juga pulang ke tempat yang sama?


Cerita - Cerita Air Mata

Ada yang bertanya
Dari mana datangnya duka?
Siapa Ibunya derita?
Dari apa air mata duka tercipta

Tiba-tiba...
Ada tetesan-tetesan air mata
Yang membawa cerita

Tentang duka yang membuat suka lebih bermakna
Tentang derita yang jadi gurunya jiwa
Tentang air mata sebagai bahasanya cinta
Ke sanakah air mata membawa semua manusia?


Doa Seorang Pencinta 

Seorang pencinta berdoa
Berdoa, berdoa dan berdoa
Tanpa kata, lupa bahasa

Tiba-tiba ada suara adzan bergema
menyebut nama Yang Maha Sempurna
Terlihat kilau dupa
Berjalan menuju cahaya
Terdengar lonceng gereja
Bergetar mengeluarkan suara-suara sempurna

Dan dari lorong jiwa ada yang bersuara
Pemilik cahaya, izinkan cinta membimbing derita


Cahaya-Cahaya Sukma 

Pagi itu berkunjunglah pangeran cahaya
Ia membawa lentera
Sekaligus berita

Tentang kehidupan bukit sukma

Ada gerhana untuk semua
Ada surya yang menyinari semua
Ada rembulan yang mengintip semua
Ada pohon yang meneduhi semua
Ada rumput yang menghijaukan semua

Semua memang untuk semua
Bukankah itu yang membuatnya bernama sukma?


Cerita-Cerita Duka Cita 

Lama kupu-kupu itu tidak berkunjung
Apalagi bersenandung
Kutanya pada burung-burung
Kenapa mereka semua pada murung?

Sampai datang pemilik pagi
Diiring segala puji
Ia bersenandung rapi

Derita hari ini adalah kekuatan esok pagi
Air mata kemarin adalah pembasuh jiwa hari ini
Duka cita tahun lalu adalah
tabungan suka cita tahun ini
Luka hidup dulu adalah tawa canda hidup kini


Wisata Makna

Dengan membawa bunga
Sekaligus cinta
Ada yang berwisata
Ke nisan yang memendam makna

Kuburan memang tempat banyak nisan
Kuburan juga rumah badan di masa depan
Kuburan juga monumen cinta bagi yang menghargai kenangan

Tapi adakah yang pernah mendengar pesan
Kalau kuburan adalah pintu untuk pulang?
Adakah yang pernah mendengar bisikan
Bahwa jiwa selalu rindu pulang?


Laba-Laba Jiwa 

Ada laba-laba
Sedang membangun rumah makna
Ia melukis sebuah rupa

Melingkar-lingkar ia menyuarakan jiwa
Sambung menyambung merajut cinta
Berbutar-putar ditemani jiwanya jiwa

Ketika ditanya kenapa ia tidak bersuara

Ia hanya diam dalam sepi
Tidur dalam sunyi
Mimpi tentang pemilik mimpi
Di pusat lingkaran yang maha suci



 Suara-Suara Langit 

Ada yang menyebutnya dengan selimut bumi
Ada yang mengiranya sebagai batasnya sunyi
Ada yang menerkanya seperti sumbernya mimpi

Jarang ada yang bertanya
Pernahkah langit bersuara?
Adakah telinga yang mendengar makna dari sana?

Kenapa bintang bergantung di sana?
Kenapa rembulan tidur pulas di sana?
Kenapa sang surya hanya tinggal di sana?

Hanya ada jawaban sepi
Seolah sepi itulah yang maha tinggi


Puji Bagi Sang Pagi 

Di ufuk timur yang berseri
Engkau selalu menepati janji
Untuk senantiasa berbagi
Sekaligus bernyanyi

Tentang cahaya yang maha menyinari
Genta yang maha suci
Hidup yang penuh arti
Dan cinta yang engkau puji

Bersama langit yang tinggi
Bersama laut yang rendah hati
Engkau taburkan sari-sari hati



Melukis Yang Manis

Di pinggir danau duduk seorang pelukis
Melukis, melukis dan melukis
Ketika di tanya apa yang di lukis
Ia menyebut seorang gadis manis

Berambut selebat hutan tua
Tersenyum manis seperti bunga kamboja
Tatapannya menyerupai bulan purnama
Kelembutannya meniru danau tua

Ketika ditanya siapa namanya
Ia hanya diam percuma
Hatinya menyebut nama yang tidak bernama


Di kutip dari: Jalan-Jalan Penuh Keindahan (Gede Prama)

0 komentar:

Post a Comment