Demikian Saja Lewat
Demikian saja lewat matahari di cakrawala sebelum
lengkap terselenggara cuaca, seluruhnya berangkat
dari kaki langit meraih kaki penjuru seberang sana.
Dua sosok bayang menggelepar terhuyung merayap-
rayap sepanjang trotoir terkembang gemetar jari-
jemari di sepanjang tangannya menggapai-gapai
puncak gedung dan menara-menara kota
Sepasang tubuh yang tak bernama dihanguskan keletihan
dan terik matahari siang, terkapar ke bawah sebuah
tembok tua, kotor dan bau, rapuh dan berdebu
adalah mereka tubuh-tubuh yang kelewat sengsara
dalam siang di bakar duka dan panas hari yang garang
Rintih keluhnya tertelan ke dalam, tertelan bising
lalulintas jalanan. Tidak ada yang hirau di kota dan
sepanjang kakilima tak ada tempat lagi bagi rasa
kasihan, simpati dan kemanusiaan tidak pun sedikit
perhatian, tidak juga sepasang bayang itu
terkejang-kejang tanpaa merintih lagi kemudian diam
selama-lamanya. Demikian saja berangkat matahari
meninggalkan kota yang sibuk dengan kerja, hiruk
pikuk deru dan kesibukan demikian saja setiap yang
lewat tak punya perhatian
Sampai Tuhan pun menurunkan bau-bau busuk,
debu-debu lalat-lalat yang berkerumun, dan ulat-ulat
di dalam
Tidak seorang pun mendekat, dan sebelum segalanya
lengkap sebelum ada yang sempat tercatat
sekonyong matahari waktu dan peristiwapun keburu
lewat. Demikian saja. ( Aku sendiri mematung
menahan sedan dan terdiam Barangkali bayang
yang kaku terbaring itu suatu saat adalah juga
diriku sendiri, nasib tak selalu baik hati sebagai
induk, kepada anak-anaknya sendiri).
Langit: Busur Hiperbola
Hari ini pun hanya ada langit ke mana
hari-hari terakhir pandangku berujung:
busur hiperbola! Tiada sesuatu pun
tiba. Engkau masih saja enggan turun
dari sayap mimpi atas asap-asap doa
Kalimat-kalimat gaib yang panjang
diantar kebarat-laut merpati-merpati putih
adakah perlu di rentang-rentang lagi, masih?
Sementara kata pun telah membiakkan benih
di tengah musim bunga, semarak berdandan
Hari ini hanya ada langit kesunyian
di ujung pandangku. Selebihnya kabur
nuansa senyap yang memperdingin cuaca itu
Penjuru barat-laut, ke arah mana
aku menghadap, dan selalu berharap-harap
adalah kaki langit yang sayup, misterius
di mana kaki-kaki busur hiperbola lenyap
dari mata, meraih-raih harapan tiada tersua
Di sini, koma-koma tidak lagi ada di akhir kata
Aku pun segera bangun dari menekuri kiblat
tiada apa pun jatuh ke pagina buku yang tercatat
Tiada juga puisi. Inilah saat, sebelum terlambat
kaki akan kukangkangkan ke bumi tegak, berdiri
sampai kau yakin, dan mengerti: Aku masih lelaki
yang hidup dari tangan dan kaki, besar dari bumi
padahal langit hanya hiperbola mimpi-mimpi
halusinasi sunyi, ilusi usiaku pagi hari
Margayasan, Yogya, 1969-1970
Kedua puisi ini dari TONGGAK 3 antologi Puisi Indonesia Modern. Linus Suryadi AG, Editor.
Jul 10, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Puisi legenda, susah ditemukan yang seperti ini sekarang
ReplyDelete