Mar 13, 2009

romansa tentang api

0

pijakan apiku telah membakar gairah
nafasku meliarkan jejak pertemuan
kita. darah api dan nafas api berbaur
melahirkan perapian bebas di pusat
kerakusan zaman dan keedanan zaman.
tapi kita menikmatinya tanpa
segenggam keraguan

sekeliling kita bambu bercadar
menggoyanggoyangkan pinggulnya
meraih masadepan nafsu belaka.
ya, kita adalah peradaban yang
digoyanggoyangkan oleh mereka yang
doyan triping di diskotikdiskotik manja.
kita memang meresapinya tanpa
seuntai pikiran yang terbebani

kita masih melangkah berlari mendaki
dan terbang hingga bertengger
kesederhanaan bumi di dada kita.
lengkingan kita keluhan kita tangisan
kita adalah sandera bumi. tapi kita
masih terus berputarputar mendapati
kegamangan warna luar. kita masih
melingkarlingkar menarinari mencari
cari kemana warna hidup pada setiap
ujung jari kita

pijaran apiku telah menghanguskan
seluruh tubuh kita hingga nafas kita
menjadi abu yang siap dipaketkan
kepada sang raja sebagai upeti
pengganti kekalahan kita.
tapi sang raja masih memberi
kelonggaran pada kita untuk mengubah
segala macam bentuk elemen yang
menunggangi keremangan pengap
sekap di dada kita

pijakan apiku. pijaran apiku. telah
melumat ruang ragaku. telah mengubah
gerak rentangku. telah menyilaukan
jarak pandangku

pijakan apiku. pijaran apiku
kusilangkan berjajar di tiang gantungan
terakhir. badai datang mengirim
gerimis. menghujani petir. meremas
remas mataku. berdebu tersapu

pijakan apiku. pijaran apiku. merembes
bersama nafasku. membentuk cahaya
lintas. menerangi pengembaraan
tangan yang tersembunyi di saku
urathening dan rindu kemudian

-09

0 komentar:

Post a Comment